Yang terserak…. November 25, 2011
Posted by joesti in Uncategorized.add a comment
Lama tidak update tulisan. akhirnya banyak yang terserak dari sana sini. Beberapa di antara yang terserak berikut …
Seleksi Asean Skill Contest Jawa Tengah 2011
Penerimaan Siswa Baru 2011 Maret 6, 2011
Posted by joesti in Uncategorized.5 comments
Sebelumnya terima kasih atas kunjungan dan komen yang disampaikan dalam tulisan bertopik Penerimaan Siswa Baru. Sekedar informasi untuk tahun 2011 ini SMK Negeri 7 Semarang belum dapat menyampaikan informasi resmi. Kami sebagai sekolah negeri melaksanakan Penerimaan Siswa Baru dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Dan hingga tulisan ini diangkat, petunjuk tersebut belum diterbitkan.Insya Allah jika sudah ada petunjuk, akan disampaikan informasi lewat situs resmi SMKN 7 Semarang maupun blog-blog pendukung. Terimakasih.
Pelatihan di Digos Agustus 12, 2010
Posted by joesti in Mengajar.add a comment
Serangkaian dengan kegiatan-kegiatan Seamolec di kawasan Davao, kali ini kami melaksanakan pelatihan di salah satu kota sebelah selatan Davao City. Digos City, nama kotanya. Jika ditempuh dengan mobil diperlukan waktu sekitar 2 jam, sementara dengan bis bisa mencapai 4 jam. Seperti biasa kami diantar oleh pihak Konsulat Jendral RI Davao City.Pelatihan dilaksanakan di Digos City National High School, sebuah sekolah publik yang terletak di tengah kota Digos. Sekolah ini berdiri sejak tahun 1946 dan saat ini memiliki 300-an tenaga pendidik dan kependidikan serta 10.000 siswa
.
Pelatihan dilaksanakan selama dua hari, Sabtu, 31 Juli 2010 dan Ahad, 1 Agustus 2010. Dalam pelatihan ini kami membagi diri dalam dua grup dan tiap grup menempati laboratorium komputer sendiri. Grup satu diikuti siswa, sementara grup dua diikuti guru-guru. Peserta pelatihan datang dari beberapa sekolah di sekitar Digos City. Mengingat waktu pelatihan yang minim, kami sudah menyepakati untuk mengambil materi-materi yang ringan dan cepat diimplementasikan. Kami memilih materi Visual Midlet dalam pelatihan kali ini. Materi hari pertama adalah pengenalan software dan object oriented programming serta hari kedua adalah penyusunan materi ajar berbasis mobile. Alhamdulilah, pelatihan berjalan lancar tanpa halangan berarti. Setiap peserta dapat menyusun sebuah aplikasi berbasis mobile dan kami berharap mereka dapat pula mengimplementasikan di pesawat mobile sebenarnya. Maklum saat pelatihan, cell-phone peserta tidak ada yang support. Selamat berkarya! Insya Allah jumpa pula….
Muter-Muter di Tagum Juli 24, 2010
Posted by joesti in Uncategorized.1 comment so far
![]() |
Di sela-sela mengajar di Tagum City, kami pun diajak jalan-jalan mengunjungi beberapa obyek. Sebagian besar kami mutar-mutar di beberapa mall di highway penghubung Davao – Monkayo. Tagum memang kota persimpangan untuk beberapa kota lain di Philipina Selatan. Selama di Tagum inilah aku lebih berkesempatan kuliner, mencoba berbagai rumah makan yang menyajikan masakan ala Philipina, tentu saja asal bukan fork. Tempat makan yang aku kunjungi Jollibee (KFC-nya Philipina), Chow King, Mang Ilasan (kalau di Indonesia seperti mbok Berek) dan hidangan-hidangan ala warung Indonesia.
![]() |
Namanya juga nasib, mencari masjid di Tagum susah tapi menemukan gereja sangat mudah. Aku sempat diajak mengunjungi gereja Omega, yang konon gereja Katholik terbesar di Provinsi Davao Del Norte. Yang unik gereja ini menyimpan rosario terbesar di dunia. Rosario ditata di halaman belakang di atas sebuah kolam. Di kolam ini aku lihat banyak sekali koin uang, kata pemandu koin itu dilemparkan pengunjung sambil memanjatkan permohonan. Ingat cerita lembar kon ke sumur keberuntungan aja. Kunjungan ke sini. tentu saja hanya sekedar kunjungan di halaman, foto-foto bentar tanpa terlibat ritual sama sekali.
Dalam sebuah perjalanan aku sempat melihat sebuah bangunan atau lebih tepatnya gardu dengan tulisan Moslem Council for Woman Tagum City. Sayang tidak sempat mampir. Saat muter-muter di mall pun masih kujumpai satu-dua wanita berjilbab, bahkan kujumpai satu siswa putri berjilbab di TNTS. Memang tidak sebanyak saat di Davao, tapi setidaknya kami tahu kami punya saudara se-ukhuwah di sini.
Jalan Sehat 2010 KJRI Davao Juli 24, 2010
Posted by joesti in Uncategorized.add a comment
![]() |
Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-65 Konsulat Jenderal Republik Indonesia Davao City dan Sekolah Indonesia Davao melaksanakan serangkaian kegiatan bersama. Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pembukaan oleh Konsul Jenderal dan dilanjutkan jalan santai warga Indonesia, termasuk kami rombongan Seamolec. Jalan sehat dilaksanakan tanggal 17 Juli 2010 menempuh rute Konsulat Jenderal-SM City-Tulip Drive-1st Road Ecoland dan berakhir kembali di kantor Konsulat Jenderal. Peserta terdiri dari keluarga besar KJRI Davao City, civitas akademika
![]() |
Sekolah Indonesia Davao City dari dewasa hingga anak yang masih naik kereta bayi tumplek bleg disini. Yang penting ’happy’. Peserta mengenakan kaos seragam berwarna merah dengan lambang burung garuda. Alhamdulilah masih ada siswa kaos tuk kami berempat, jadi bisa berbaur warna.
Peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun ini menjadi momen yang tak terlupakan tuk kami, untuk pertama kali mengikuti rangkaian peringatan di luar tanah air tercinta. Dirgahayu Indonesia!.
Ikutan upacara Juli 20, 2010
Posted by joesti in Uncategorized.add a comment
Penugasan di sekolah lain memberi kesempatan bagiku untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Aku sempat mengikuti rapat antar kepala sekolah, kalau di negara kita mungkin rapat MKKS, juga audit eksternal yang mirip audit ISO. Tak ketinggalan pula mengikuti upacara bendera. Upacara bendera di sekolah Philipina disebut "Flag Ceremony" dilaksanakan setiap Senin pagi jam 06.30 sementara kegiatan pembelajaran akan dimulai jam 07.00.
Pelaksanaan upacara lebih ringkas daripada upacara di Indonesia. Acara demi acara dilaksanakan tanpa protokol yang mengantarkan acara, jadi upacara mengalir begitu saja dari acara satu ke acara lain. Persiapan upacara cukup dengan pengumuman dari guru pembina kepada siswa untuk berkumpul di lapangan upacara. Upacara dimulai 06.30 dengan pembacaan doa dipimpin oleh guru pembina. Doa dilaksanakan dalam tatacara Katholik Roma, agama terbesar di Philipina. Usai doa, peserta upacara menghadap tiang bendera dan bendera dikibarkan dengan diiringi lagu kebangsaan. Bendera dikibarkan oleh petugas yang sejak awal sudah siap di samping tiang bendera, tidak perlu berjalan dari satu tempat menuju tiang bendera. Lagu kebangsaan yang mengiringi pun tidak dinyanyikan oleh kelompok paduan suara, semua peserta upacara menyanyi dengan dipimpin oleh satu siswa. Bendera dikibarkan dengan cepat, tidak menunggu lagu kebangsaan selesai untuk sampai ke puncak. Usai bendera dikibarkan, petugas bendera tetap di tempat, seorang siswa maju dan memimpin pengucapan dasar negara. Pengucapan dasar negara dilakukan bersama-sama tidak dengan mengulangi yang diucapkan petugas. Usai pembacaan doa, sambutan dari principal (kepala sekolah) yang juga memakan waktu lama. Dalam kesempatan tersebut aku diberi kesempatan tampil untuk perkenalan dan sambutan kecil.
Seumur-umur aku belum pernah ngomong di depan upacara, sekali diberi kesempatan ngomong malah di negara lain pakai bahasa asing pula, wkwkwk, Subhanallah.
. Upacara pun usai, siswa kembali ke kelas masing-masing. Setelah upacara bersama siswa ini, para guru mengikuti upacara kecil, koordinasi bersama. Upacara para guru ini juga tidak memakan waktu lama. Jam 07.00 semua siap di kelas.
Yang juga sama-sama terjadi di sekolah ini adalah dijumpai siswa terlambat. Banyak juga siswa yang terlambat. Di Tagum Trade School ini, penanganan siswa terlambat adalah pemberian sanksi membersihkan halaman sekolah. Asal tahu saja halaman sekolah berupa padang rumput. Jadi membersihkan halaman sekolah artinya memotong rumput, setiap siswa dihukum memotong rumput dalam luas areal tertentu. Para guru yang mengajar jam pertama akan mencek hasil hukuman siswa ini. Selain memotong rumput, punishment yang diberikan adalah membersihkan kelas atau ruang lain. Semakin banyak siswa terlambat semakin bersih padang rumput kita hehehehe, bercanda.
Mencari Masjid sesi2 Juli 17, 2010
Posted by joesti in Uncategorized.add a comment
Tugas membawa kami berpindah-pindah kota. Setelah beberapa lama berada di Davao, aku berpindah tempat tugas. Kota yang kami tuju kali ini adalah Tagum City. Jika melihat peta, koa tersebut terletak di sebelah utara Davao City. Jarak kedua kota sekitar 50km, dan di antara jalan yang harus dilalui kami melewati tepi pantai, tepatnya tepi Teluk Davao, Mindanau.
Seperti biasa, kami mencari informasi letak masjid terdekat lokasi, tapi sayang kali ini kami gagal. Jangankan mengetahui lokasi, mendengar nama "mosque" saja banyak yang merasa asing. Aku menjelaskan sebagai "moslem center", baru agak "ngeh". Tapi mereka menginformasikan bahwa masjid terdekat pun terletak di luar kota Tagum City. Memang dalam perjalanan aku sempat melihat masjid di tepi jalan antar kota tapi masjid itu terletak di daerah Carmen, masih cukup jauh dari Tagum City, sekitar satu jam perjalanan dengan mobil sendiri. (dengan bis pasti lebih lama) Upaya mencari di sekitar, biarpun mushalla tak apalah, hasilnya tetap nihil. Apa boleh buat, jumat ini dan jumat depan aku tidak dapat melaksanakan jumatan di masjid. Semoga Allah memaafkan, Amin.
Naik bis Juli 17, 2010
Posted by joesti in Mengajar.add a comment
Penugasan ke beberapa kota di Philipina memberi konsekuensi tersendiri bagi kami. Berpindah kota memberi tantangan baru terutama jika tidak diantar mobil khusus. Naik angkutan umum seperti bis menjadi alternatif utama untuk bepergian. Penugasan aku ke Tagum City memberiku kesempatan untuk mencoba. Tagum City terletak di Provinsi Davao del Norte, 50 km utara Davao City. Untuk berangkat antar kota, aku memilih berangkat dari terminal bis. Sebenarnya bisa saja naik di pemberhentian bis, tapi aku tidak tahu tempatnya. Menurut informasi yang kuterima, bis di Philipina tertib dalam menaikkan dan menurunkan penumpang. Mereka menaikkan dan menurunkn penumpang di bus stop atau halte yang telah ditentukan. Di beberapa tempat sekitar terminal, aku jumpai peringatan "No Loading" sebagai peringatan untuk tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat.
Bis di Philipina secara fisik ukurannya sama dengan bis di Indonesia. Hanya saja pada umumnya hanya memiliki satu pintu di sebelah kanan badan bis (jalan raya di Philipina menganut pola Amerika, kita berjalan di sebelah kanan). Bis diawaki satu sopir dan satu kondektur. Kalau di Indonesia biasanya ada tiga awak, satu sopir, satu kernet dan satu kondektur. Setelah naik bis, bis berangkat pada waktu yang telah ditentukan. Kondektur berkeliling mengedarkan tiket dan menagih ongkos. Tiket yang digunakan disini bagiku seperti kombinasi tiket bis dan kereta api. Bahan baku tiket adalah kertas seperti tiket bis di Indonesia. Kemudian untuk menandai ongkos perjalananan, tempat pemberangkatan dan tempat tujuan digunakan pelubang seperti pelubang di tiket kereta api. Jadi tiketku dilubangi di beberapa tempat sebagai penanda yaitu tempat pemberangkatan, tempat tujuan, ongkos, dan kode seri bis. Biasanya di Indonesia hanya ditandai dengan spidol pada tempat pemberangkatan dan tempat tujuan. Setelah tiket diberikan dan ongkos dibayar, simpan dulu tiketnya buat kenang-kenangan difoto buat blog dan yang lebih penting ada pemeriksaan tiket di tengah perjalanan. Tidak bisa menunjukkan tiket disuruh pulang
.
Mencari Masjid sesi 1 Juli 9, 2010
Posted by joesti in Belajar.1 comment so far
|
Masjid adalah moslem center, tempat berkumpulnya kaum muslim, kaum pemeluk agama Islam. Di tempat ini dilaksanakan berbagai kegiatan baik bersifat ibadah maupun muamalah. Maka sudah seharusnya kami mencari masjid, paling tidak kami segera mendapat tempat untuk melaksanakan shalat jumat yang pasti dilaksanakan di masjid. Pun saat bertugas di Philipina ini, menemukan masjid menjadi salah satu prioritas utama setelah kami menetap.
Davao City merupakan kota dengan penduduk yang beragam, meski tampaknya keragamannya tidak sebanyak di Singapura maupun Jakarta. Sebagian besar penduduk memeluk Roman Chatolic, pemeluk Islam menempati jumlah kedua terbesar. Mestinya masjid juga tidak terlalu sulit ditemukan.
![]() |
Masjid pertama yang kami temui tentu saja masjid yang terletak di Konsulat Jenderal RI, yang terletak di Ecoland Drive, Matuna, Davao City. Masjid yang bernama Al Ikhlas ini secara ukuran tidak terlalu besar, berdaya tampung sekitar 200 orang. Di masjid ini aktiitas keislaman warga muslim Indonesia khususnya staf KJRI muslim dipusatkan. Pengajian, yasinan, hingga pesantren kilat ala sekolah Indonesia juga dilaksanakan di masjid ini. Masjid juga mempunyai perpustakaan dengan jumlah buku banyak dan beragam dan tentunya ditulis dalam Bahasa Indonesia.
![]() |
Sebagian besar koleksi berupa karya Quraish Shihab. Aku juga menemukan buku-buku yang menjadi trend saat masa kuliah dulu, seperti karya-karya Jalaludin Rahmat dan banyak lagi buku-buku yang pasti bermanfaat. Menurut informasi teman di konsulat, buku-buku tersebut umumnya disumbang oleh staf KJRI juga pembelian saat berkunjung ke Jakarta. Koleksi buku masjid Al Ikhlas ditempatkan dalam dua lemari besar menarik untuk dibaca.
Tidak jauh dari tempat kami menginap, House of Indonesia juga terdapat masjid. Informasi keberadaan masjid ini kami peroleh dari penjaga House of Indonesia. Perjalanan ke masjid ini cukup berjalan kaki sekitar 20 menit. Masjid terletak di jalan raya Matina, tepat di depan SuperMall. Masjid berukuran besar, berlantai dua, daya tampung sekitar 2000 orang. Masjid ini juga difungsikan sebagai Moslem Center, sehingga kami jumpai pula sekolah madrasah, taman bermain, kantin juga kantor. Aku belum eksplor lebih dalam ke masjid ini. Ketika aku jumatan di masjid ini, khutbah tidak disampaikan dalam bahasa Inggris. Aku tidak dapat menangkap isi khutbah, bahkan aku tidak tahu bahasa yang mereka gunaan, bahasa Tagalog atau bahasa Visaya. Aku pun mengkhayalkan saudara-saudara muslim luar Indonesia jika berkunjung dan melaksanakan jumatan di masjid-masjid di tanah air akan menemukan hal yang sama, tidak tahu apa yang khatib sampaikan. Di sinilah tampak sebuah kebesaran Islam, kita dipersatukan dalam sebuah ibadah yang tidak berbeda satu sama lain. Ibadah kita menggunakan bahasa Arab, universal untuk setiap muslim di dunia.
![]() |
Satu hal yang menarik di masjid ini adalah pengaturan tempat wudhu. Tempat wudhu dilengkapi dengan kursi beton di setiap pancurn air. Jadi kita berwudhu sambil duduk, tidak seperti biasanya berwudhu dengan berdiri. Sehingga sambil berwudhu kita bisa beristirhat sejenak setelah berjalan kaki. Dengan duduk semestinya saat berwudhu bisa dilaksanakan lebih santai dan membasuh anggota badan lebih teliti. Lumayan juga untuk orang-orang yang berukuran besar yang biasanya kesulitan berwuddu dengan berdiri karena pancurannya terlalu rendah. Ide ini dapat ditiru, tapi yang pasti menghabiskan tempat.
Seiring waktu, kami akan berpindah ke kota lain dengan tugas yang sama. Dan di sana pasti kami kembali mencari rumah Allah yang lain.
Tamu dari ICRC Juli 9, 2010
Posted by joesti in Belajar.add a comment
Jumat, 9 Juli 2010, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Davao City menerima tamu dari International Red Cross Commitee Geneve. Rombongan beranggota tiga orang, dipimpin oleh staff ICRC Pusat Geneva Mr. Jean Robert. Beliau ditemani dua orang dari Philipina, satu staf Philippine Red Cross dan satu orang penghubung lapangan. Kepada kami, rombongan ICRC mempresentasikan perjuangan mereka menangani masalah-masalah kemanusiaan khususnya di daerah konflik. Mr. Jean juga menceritakan pengalamannya saat bertugas di Afghanistan, kesulitan-kesulitan saat menghadapi embargo Israel di Palestina dan lain-lain. ICRC bersikap netral dalam menghadapi pertikaian atau perselisihan, mereka lebih berperan sebagai fasilitator maupun negosiator untuk memberikan kesempatan bagi kegiatan kemanusiaan baik pemberian bantuan pangan, obat maupun pertemuan orang-orang yang teraniaya termasuk penghuni penjara.
Kebetulan konsulat mempunyai beberapa permasalahan dengan beberapa penjara di Philipina terkait kasus penangkapan warga Indonesia di perairan Philipina. Negosiasi sering menemukan jalan buntu. Kami pun menitip pesan agar pihak ICRC bersedia membantu berperan sebagai negosiator permasalahan ini. Selamat bertugas, Mr. Jean dan ICRC.










